Jumat, 29 Juli 2011

TWINS BROTHER


“Hai namaku Avin. Aku pindahan dari Jakarta. Aku pindah ke sini karena ibuku membuka usaha di kota ini. Aku berharap, temen-temen mau membantuku.” ujar Avin seraya tersenyum saat perkenalan.
“Lala, tolong hargai sedikit orang yang sedang berbicara di depanmu.” seru Wali Kelas kepada seorang siswi yang sejak tadi hanya menatap coretan-coretan tinta di depannya.

Lala mendongak kaget tapi dia lebih kaget lagi begitu matanya beradu pandang dengan Avin. Avin tersenyum ringan tapi Lala mulai gelisah.
“La, kamu nggak papa?” tanya Putri menyenggol lengan Lala.
Lala tersadar lalu menunduk.
“Putri, dia bukan Alan kan Put?” tanya Lala cemas.
“Dia anak baru La, namanya Avin.”
Lala kembali menatap Avin yang kini sudah duduk di bangku tepat di sebelah kiri Lala. Ada sebutir bening yang kini perlahan menuruni pipi Lala, tapi buru-buru dihapusnya.
“Udah ya La, kita konsentrasi dulu aja ke pelajaran.” ujar Putri menepuk bahu Lala.
Lala kembali menekuni buku-bukunya dan berusaha keras untuk berkonsentrasi pada pelajaran. Tapi semua materi yang disampaikan oleh gurunya berlalu begitu saja dari pikirannya, tanpa meninggalkan bekas. Untunglah bel istirahat berbunyi sehingga menyelamatkan Lala dengan segala kegundahan hatinya.
“La, kamu nggak papa?”
“Putri, dia bener-bener bukan Alan kan Put?”
“Bukan La, dia itu bukan Alan. Mana mungkin sih orang yang sudah meninggal itu bisa hidup lagi. Kamu jangan ngaco deh La.”
“Tapi kamu bisa lihat sendiri kan Put. Wajahnya, matanya dan semua yang ada pada dirinya itu milik Alan. Put, apa mungkin dia itu renkarnasi Alan?”
“La, kamu jangan konyol dong. Alan itu udah meninggal La, dia nggak mungkin hidup lagi. Mungkin cuma kebetulan aja wajah Avin mirip dengan Alan.”
Lalapun hanya tertunduk menangis.
“La, maaf ya. Tapi kamu harus realistis, Alan itu udah nggak ada. Aku tahu, kamu belum bisa nerima kenyataan ini. La, hari ini kan 40 hari meninggalnya Alan, ntar kita ziarah yuk ke makam Alan!” ajak Putri perlahan seraya menghapus air mata Lala.
Lala mengangguk perlahan.
***
Pagi itu Lala berjalan pelan memasuki gerbang sekolahnya. Kemudian dengan santainya dia menyusuri lorong-lorong sekolah untuk sampai di kelasnya. Sesaat sebelum dia memasuki kelas, dia tercengang melihat seseorang duduk di bangku seraya membolak-balik buku di depannya.
“Alan!!” seru Lala spontan.
Avin mengangkat kepalanya seraya tersenyum.
“Eh maaf, aku kira temenku.” Lala tersadar.
Avin kembali tersenyum. Sejenak Lala masih mematung di tempat ia berdiri seraya mengamati Avin.
“Sorry, ada apa? Ada yang salah denganku?” Avin mulai sadar bahwa sedari tadi dirinya diperhatikan.
Lala lalu tersenyum dan menunduk.
“Nggak ada apa-apa kok. Maaf.”
“Lala!” seru Putri yang sudah ada di belakangnya.
Lala menoleh ke arah Putri lalu merangkul Putri seraya terisak. Kemudian Lala melepaskan pelukannya, menghapus air matanya lalu berlalu tanpa kata membuat Putri bingung.
“La, kamu mau kemana?”
Lala masih diam tak menyahut.
Lala masih terus menyusuri jalanan kecil dengan perasaan tak menentu. Kemudian dia memasuki kompleks pemakaman dan menuju ke sebuah makam yang tanahnya masih berwarna merah. Dia diam terduduk di pinggiran makam dengan nisan bertuliskan Alandi Saputra.
Perlahan air mata yang sejak tadi telah tertumpah kini tak malu lagi untuk mengalir semakin deras.
“Alan!” seru Lala pelan, tapi Lala tak kuasa untuk melanjutkan kata-katanya lagi.
“Alan, dia itu siapa? Kenapa aku merasakan kamu hidup lagi ketika melihat senyumnya? Kenapa aku merasakan kehadiranmu saat kutatap wajahnya? Apakah dia memang sengaja datang untuk menggantikanmu?”
“Enggak Lan, nggak ada seorangpun yang bisa menggantikanmu.” gumam Lala pelan dan semakin larut dalam kesedihannya. Lalu dia memeluk gundukan tanah yang diyakininya kini telah menghancurkan jasad Alan, orang yang sangat dicintainya sampai saat ini.
***
Kehadiran Avin cukup mampu mengikis kesedihan dan kegundahan hati Lala karena kehilangan Alan. Avin seolah mampu membuat Lala kembali tersenyum dan bersemangat lagi melewati hari-harinya. Kemiripan wajah Avin dan Alan menjadikan Lala merasa nyaman berteman dekat dengan Avin. Entah apa memang hanya karena wajahnya yang mirip dengan Alan atau memang Lala yang sudah bisa membuka hati untuk yang lain.
Semakin lama Lala menjadi begitu dekat dengan Avin. Bersekolah di tempat yang sama dan jarak rumah yang memang tidak begitu jauh, membuat mereka selalu berangkat dan pulang sekolah bersama. Meskipun mereka sudah sangat dekat, ternyata mereka tak cukup terbuka satu sama lain. Lala tahu tentang Avin hanya sebatas dirinya saja, tak lebih. Tidak pula mengenai keluarganya, dan Avin pun seolah tak ingin seorang pun tahu tentang keluarganya, hingga dia kerap kali marah ketika Lala mulai bertanya-tanya. Sampai pada suatu sore, ketika pulang sekolah bersama, Avin mulai membuka tabir tentang keluarganya.
“Jadi sebenarnya kamu masih punya Ayah dan Kakak?” Lala mulai berkomentar ketika Avin menceritakan tentang keluarganya.
“Iya La, dan sekarang kita sudah berkumpul kembali. Keluargaku sudah lengkap La. Kau tahu kenapa dulu aku tidak bisa cerita tentang keluargaku kepada siapa pun dan aku selalu marah jika ada yang bertanya?”
Lala menggeleng pelan.
“Karena aku nggak ingin ada seorang pun yang tahu bahwa aku besar di tengah-tengah keluarga yang broken home. Tapi, sekarang kita sudah berkumpul lagi.” ujar Avin dengan wajah berseri-seri.
“Tapi La, apapun yang terjadi, kamu akan tetap jadi sahabat terbaikku kan?”
Lala tersenyum, “Ya iyalah Vin, kalau kamu bahagia, aku pasti akan ikut bahagia. Memangnya kenapa?”
“Nggak papa La, aku hanya takut kamu ninggalin aku.”
“Nggak ada alasan untuk itu Vin.”
***
Sore itu Lala pergi ke rumah Andre, kakaknya Alan. Dia berniat ingin membereskan kamar Alan dan menyimpan barang-barang Alan.
“Sore Kak Andre!” sapa Lala begitu Andre membukakan pintu rumah.
“Hai Lala, ayo masuk!”
“Sore Om Adi!” Lala bertemu dengan bapaknya Alan.
“Sore La, gimana kabarmu? Sekolahmu baik-baik saja kan?”
“Baik Om. Om Adi sendiri sehat?”
“Iya, kita sehat kok. Tapi kita kangen banget sama kamu. Kamu sudah nggak pernah main kesini lagi.” sahut Andre.
“La, apapun yang terjadi, kita tetep satu keluarga kok. Kamu jangan segan-segan ya sama Om, sering-sering main ke sini.”
“Makasih Om. Lala pasti akan sering main ke sini. Lho, Om dia….” Lala terkejut melihat Avin yang baru keluar dari kamarnya.
“Dia Avin, kamu sudah mengenalnya kan? La, ada yang pengen Om bicarakan.” kata Om Adi seraya mengajak Lala ke ruang tengah, diikuti Andre di belakangnya.
“Kenalin La, ini Tante Rina.” ujar Om Adi seraya menunjuk seorang perempuan yang tengah duduk di sofa. Lala menyalaminya lalu duduk di samping Om Adi.
“La, Tante Rina ini adalah ibu kandung Alan. Kamu belum pernah mengenalnya kan?”
Lala kaget dan menatap Om Adi dengan gelisah.
“Dan Avin, yang kamu temui tadi adalah saudara kembar Alan.” lanjut Om Adi.
Lala terperanjat dan langsung berdiri dengan mata berkaca-kaca. Andre mendekatinya dan mencoba menenangkannya.
“Enggak Om, Alan bilang ibunya sudah nggak ada.” Lala berkata dengan nada keras.
“La, kamu mungkin nggak percaya sama Papa, tapi kamu percaya kan sama Kakak? Ibu bukannya udah nggak ada La, tapi dulu Ibu pergi. Pergi ninggalin aku, Papa dan Alan. Dan sekarang Ibu sudah kembali lagi. Dia bener-bener ibu kandungku La, itu berarti ibu kandung Alan juga. Kamu harus percaya sama Kakak La.” ujar Andre pelan seraya merengkuh Lala dalam pelukannya.
“Lala!” Andre menghapus air mata Lala yang sudah tidak bisa dibendung lagi.
“La, Kakak tahu kok kesedihanmu. Tapi ini kenyataannya La.”
“Tapi Kak, di mana dia saat Alan menderita sendirian? Di mana dia saat Alan membutuhkan seseorang untuk menyemangatinya tetap hidup? Apa dia juga tahu bagaimana penderitaan Alan selama ini Kak?” kata Lala disertai isak tangis.
“La, Kakak ngerti…..”
“Enggak! Nggak ada yang pernah ngerti Kak. Kak Andre juga nggak pernah ngerti. Mungkin memang lebih baik Alan meninggal, sehingga dia tidak akan merasakan sakit karna tak seorangpun mau peduli dengannya. Kak Andre nggak pernah ngerti kan, gimana Alan berjuang sendirian melawan penyakitnya? Alan sendirian Kak!!” Lala berkata keras.
Andre menunduk, air matanya mulai menetes.
“Lala…..” Om Adi ikut mencoba menenangkan Lala dengan memegang kedua tangannya.
“Om, Om Adi juga nggak pernah ngerti kan gimana penderitaan Alan selama ini? Mungkin Om sayang sama Alan, tapi ternyata Om juga nggak peduli dengan Alan. Om nggak pernah ada di samping Alan saat Alan bener-bener butuhin Om. Sekarang Om bayangin, gimana hancurnya Alan ketika dokter mengatakan umurnya tinggal sebentar lagi dan di saat itu, tak ada satupun keluarganya yang menemaninya. Kemana Om waktu itu?”
Om Adi terisak lalu dia merangkul Lala.
“Om salah La. Om salah karena tidak tahu tentang semua itu.”
Lala masih terisak.
“Alan…Alan menderita Om. Selama ini Alan harus menghadapi kenyataan pahit dalam hidupnya sendirian. Dia menderita Om.”
“Om tahu La, Om menyesal membiarkan semuanya begitu aja.”
Lala terdiam seraya berurai air mata. Kemudian dia menatap Andre yang masih menunduk.
“Maaf. Lala nggak bermaksud menyinggung perasaan Kak Andre dan Om Adi. Maafin Lala. Lala nggak bisa nahan diri. Nggak seharusnya Lala berbicara seperti itu.” Lala bergantian menatap Andre dan Om Adi.
“Semua yang kamu katakan itu benar La. Kamu nggak perlu minta maaf. Tapi La, sekarang keadaannya memang seperti ini. Kamu bisa menerimanya kan La? Om mohon, kamu sudah Om anggap seperti keluarga Om sendiri, jadi Om akan tetap mempertimbangkan keputusanmu.” Om Adi menatap Lala.
“Mungkin selama ini Lala sudah begitu dekat dengan keluarga ini, tapi Lala nggak berhak untuk terlalu ikut campur. Lala memang kecewa sekali dengan keadaaan ini, tapi nggak ada yang perlu disalahkan. Seandainya saja pertemuan ini terjadi lebih cepat atau umur Alan diperpanjang sedikit saja, mungkin semuanya akan lebih baik. Setidaknya bila Alan harus pergi, dia telah merasakan kasih sayang seorang ibu.”
“Tapi Lala belum bisa nerima kenyataan ini. Terlalu sakit Om. Om Adi dan Kak Andre tak perlu menghiraukan Lala. Om dan Kakak lebih tahu yang terbaik buat keluarga ini. Maafin Lala Om, tapi Lala nggak bisa untuk berpura-pura menganggap semuanya biasa saja.” air mata Lala kembali bergulir.
“La, Om dan Andre akan menghormati keputusanmu…”
“Om, Lala nggak punya hak di sini, jadi terserah Om mau bagaimana. Om Adi nggak perlu mengkhawatirkan Lala. Apapun keputusan Om, itu tak akan mengurangi rasa sayang dan hormat Lala pada Om dan Kak Andre. Hanya saja Lala belum rela jika ternyata Alan masih mempunyai ibu kandung. Karna tak mungkin ada ibu yang setega itu terhadap anaknya sendiri. Maaf.” Lala berbalik dan melangkah pelan keluar meninggalkan semua orang di ruangan itu, termasuk Tante Rina yang menangis sesenggukan.
“La tunggu..!!” Avin mengejar Lala.
Lala tetap berlalu, tapi Avin begitu cepat menarik tangan Lala sehingga Lala menghentikan langkahnya.
“Aku tahu La, mungkin semua ini memang kesalahan Ibu, karena dulu Ibu yang ninggalin Alan, Papa dan Kak Andre. Tapi kamu nggak berhak menghakimi Ibu seperti itu, kamu nggak tahu apa-apa tentang keluarga ini, kamu nggak tahu kan alasan Ibu pergi? Kamu tahu, kata-katamu tadi telah menyakiti Ibu.” Avin berkata dengan emosi.
Lala menoleh juga dengan emosi yang terpancar jelas dari wajahnya.
“Lantas harus seperti apa? Aku tahu, aku memang nggak berhak ikut campur urusan keluarga ini dan aku juga nggak berniat untuk ikut campur. Maaf jika aku mengatakan sesuatu yang kasar, tapi ini menyangkut Alan dan aku nggak bisa untuk bersikap biasa saja. Apa kamu masih akan mengatakan bahwa aku nggak tahu apa-apa tentang Alan? Satu hal yang tidak aku ketahui dari Alan adalah apa yang baru saja aku dengar tadi, bahwa ibu kandung Alan masih hidup.”
“Oke, aku memang lebih tak tahu apa-apa dibanding kamu. Aku baru beberapa hari yang lalu mengetahui semuanya. Tapi kamu nggak bisa berkata seperti itu pada Ibu.”
Pelupuk mata Lala mulai memanas dan butir-butir bening siap menetes lagi.
“Terus aku harus bagaimana? Menerima dan menganggap semuanya baik-baik saja? Maaf Vin, aku nggak bisa. Aku tahu, aku nggak berhak bersikap seperti itu karena aku bukan siapa-siapa di keluarga ini. Jadi nggak usah terlalu dipikirkan apa yang aku katakan.”
“La, kamu sahabatku. Kamu pernah mengatakan bahwa kamu akan bahagia jika aku bahagia kan.”
“Itu dulu ketika aku belum tahu kenyataan ini Vin. Tapi sekarang, itu semua terasa menyakitkan. Aku butuh waktu Vin. Aku tahu sekarang kamu lagi bahagia, dan kamu berhak untuk bahagia, jadi nggak usah peduli dengan aku.” Lala berkali-kali mengusap air mata yang tiba-tiba bergulir.
Avin memegang kedua tangan Lala.
“Nggak bisa seperti itu La. Aku nggak bisa untuk nggak peduli sama kamu. La, kamu nggak akan ninggalin aku kan? Aku mohon jangan lakuin itu La, aku nggak bisa.” Avin berkata lembut seraya menatap Lala.
“Lakukan saja semua yang kamu mau Vin, semua yang bisa membuat kamu bahagia. Maaf atas sikap dan juga perkataanku tadi. Tapi ini berat buatku.” Lala berjalan pelan menuju pintu depan dan membukanya.
Avin berlari mengejar Lala dan berhasil menjajari langkahnya.
“La…” Avin berhasil memegang kembali tangan Lala dan membuat Lala berhenti.
“Apalagi sih Vin? Aku mohon jangan kau paksa aku untuk bisa menerima semuanya. Aku nggak bisa Vin.”
“Aku sayang kamu La.” Avin menatap Lala.
Mata Lala kembali basah, “Aku nggak bisa Vin.”
“Kenapa? Karena aku kembarannya Alan? Apa salahnya aku terlahir sebagai kembarannya Alan?”
“Karena aku nggak mau menggantikan Alan dengan siapa pun. Dan meskipun kamu kembarannya Alan, tapi kamu nggak akan pernah bisa menggantikannya.”
“Aku nggak bermaksud menggantikan Alan La. Jangankan untuk menggantikannya, untuk bisa seperti Alan pun, aku rasa aku nggak akan bisa. Tapi aku sayang kamu sebagai Avin, bukan Alan.”
“Maaf Vin, hatiku hanya untuk Alan. Aku tahu Alan sudah nggak ada, tapi aku belum bisa untuk melepasnya. Aku butuh waktu untuk sendiri dulu.” Lala berlalu membawa segenggam cinta sejatinya untuk Alan dan meninggalkan lara di hati Avin, Tante Rina, Om Adi dan Andre. Dan tak ada seorang pun yang tahu apa yang sebenarnya ia rasakan, sebuah rasa yang mulai tumbuh tapi harus mati lagi karena sebuah kenyataan masa lalu yang menyakitkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar