Sabtu, 22 Oktober 2011

Cinta Itu Tak Lagi Untukmu



Udara Kota Solo siang itu cukup panas. Namun mendung tipis menggelayut manja di langit, menandakan kemungkinan akan turun hujan. Seharusnya memang sudah musim kemarau, tapi seringkali hujan masih turun meski dengan intensitas yang jarang. Seorang cewek berdiri di sebuah halte dengan wajah gelisah. Sepertinya bis kota yang ditunggunya belum juga lewat. Tak berselang lama sebuah sepeda motor berhenti tepat di depannya.
“Nay, mau kemana?” tanya Irzha seraya membuka kaca helmnya.
Cewek yang bernama Naya itu hanya tersenyum kecil melihat Irzha, teman kampusnya yang belum lama dikenalnya di sebuah acara baksos.
“Mau berangkat kerja Zha.”
“Aku antar yuk! Ntar kamu telat lho.”
“Nggak usah Zha, aku biasa naik bis kok.”
“Nggak papa, aku nggak keberatan. Yuk!”
“Tapi aku nggak bawa helm.”
“Gampang, kita lewat jalan pintas aja biar nggak ada polisi. Yuk!”
Naya sedikit ragu, lalu mulai mendekat dan naik di boncengan motor Irzha. Motor mulai melaju, meniti setiap jengkal jalan kecil yang membawa mereka ke sebuah toko bakery.
“Thank’s banget ya Zha.” ucap Naya begitu turun dari motor Irzha. Irzha cuma mengangguk pelan.
“Aku masuk dulu ya, udah jam kerja. Kamu hati-hati baliknya.”
“Ya udah buruan masuk!” perintah Irzha.
“Kamu nggak balik?”
“Aku ingin mastiin dulu kamu baik-baik aja sampai di dalam.” Irzha membuka helmnya dan menatap Naya.
Naya juga terdiam beberapa saat seraya menatap Irzha, lalu dia tersenyum kecil dan mulai melangkah masuk ke toko bakery. Bahkan sampai meletakkan tasnya pun Naya masih senyum-senyum sendiri. Dia merasa senang mendengar kata-kata Irzha barusan. Mungkinkah dia telah jatuh cinta pada Irzha?
Irzha pun segera memakai helmnya kembali dengan sebuah senyum yang terkulum di bibirnya. Lalu segera pergi dengan motornya. Namun, belum sampai seratus meter dia kembali menghentikan motornya dan mengeluarkan ponsel dari saku celananya.
pulang jam brp? Aku jemput ya?” sebuah pesan singkat yang langsung dikirimnya ke nomor Naya. Dan tak lama sebuah pesan balasan diterimanya. “jm 8, boleh asal ga ngrepotin kamu”. Sebuah senyum yang lebih lebar kembali tersungging di bibirnya. Dan dia pun kembali melanjutkan perjalanannya.
*          *          *
Malam itu seperti biasa, Naya duduk sendiri di bangku halte. Dan seperti biasa pula, dia menunggu Irzha yang telah berjanji akan menjemputnya. Memang sudah hampir dua minggu ini Irzha menjadi orang yang paling dekat dengan Naya, menemaninya makan siang di kampus, mengantarkan dan juga menjemputnya dari toko. Tak lama seseorang datang menyandingnya duduk.
“Baru pulang Nay?”
Naya menoleh, lalu tersenyum.
“Iya. Mas Indra baru pulang kerja juga?”
Indra tersenyum seraya mengangguk.
Indra baru beberapa hari yang lalu dikenalnya. Dia adalah salah satu pelanggan di toko bakery tempat ia bekerja. Sebenarnya awal perkenalan mereka kurang menyenangkan yaitu karena kesalahan Naya mengirimkan kue pesanan Indra, sehingga membuat Indra melapor kepada atasan Naya dan alhasil Naya mendapat omelan dari bos juga pemotongan gaji. Namun, setelah pertemuan beberapa kali mereka menjadi akrab.
“Pulang bareng aku aja yuk! Kebetulan hari ini aku bawa kendaraan. Tuh!” Indra menunjuk sebuah mobil yang terparkir di pinggir jalan, tak jauh dari halte.
“Makasih Mas, tapi aku udah ada janji ma temen. Sebentar lagi mungkin dia datang.”
“Oke, kalau gitu biar aku temenin kamu sampai temenmu datang.”
“Mas Indra nggak perlu repot-repot seperti itu. Mas Indra pulang dulu aja. Aku nggak papa kok Mas nunggu sendiri.”
“Aku juga nggak terburu-buru kok, Lagian nggak baik kamu malem-malem gini nunggu sendirian.”
Naya hanya tersenyum seraya mengamati layar ponselnya. Sebuah pesan singkat dari Irzha. “sorry Nay, aq ga bs jemput. Masih ada acra di kmpz. Sorry bgt.” Selesai membaca pesan singkat itu Naya langsung menghubungi Irzha, tapi ga ada jawaban. Sekali lagi dia mencoba menelpon Irzha, dan kali ini ponselnya malah tidak aktif. Naya bingung, di dadanya berkecambuk seribu tanya tentang Irzha. Ini adalah kali pertamanya Irzha bersikap seperti itu kepadanya. Dia ingin marah tapi masih bisa ditahannya.
“Kenapa Nay?” Indra memperhatikan perubahan wajah Naya.
Naya masih mencoba menata hatinya, dia menghirup nafas dalam dan menghembuskannya perlahan.
“Temanmu nggak jadi jemput?” Indra mencoba menebak.
Naya mencoba tersenyum, lalu mengangguk pelan.
“Ya udah, pulang bareng aku aja. Aku antar.”
Naya menatap Indra lalu mengangguk dan mengikuti Indra menuju mobilnya.
*          *          *
Naya semakin bingung dengan perubahan sikap Irzha padanya. Setiap janji akan bertemu, Irzha selalu membatalkannya di detik-detik terakhir. Selalu saja ada alasan yang membuat Irzha dengan mudah mengatakan maaf. Bahkan telpon dan sms Naya seringkali tak mendapat tanggapan dari Irzha. Hari ini belum begitu siang tatkala Naya menunggui Irzha keluar dari kelasnya. Naya ingin tahu ada apa sebenarnya dengan Irzha, hingga Irzha berusaha menjauhi Naya.
“Nay, kok kamu di sini?” Irzha kaget begitu keluar dari kelas.
“Kamu sibuk? Apa nggak ada sedikit saja waktu untuk ngobrol denganku?”
Irzha hanya menatap Naya, lalu dia menarik tangan Naya dan mengajaknya duduk di sebuah bangku taman.
“Ada apa Nay?”
“Harusnya aku yang bertanya seperti itu Zha. Kamu ini kenapa? Semua janjimu nggak pernah kamu tepati. Kamu sendiri yang menjanjikan akan menjemputku, dan ketika aku menunggumu, kamu nggak pernah datang. Bahkan kamu sudah tidak pernah membalas sms dan mengangkat telponku. Sebenarnya kamu itu kenapa? Kamu nggak usah lagi menjanjikan sesuatu yang memang tidak pernah bisa kamu tepati.”
“Maaf Nay.” Irzha terdiam sejenak, mengatur nafasnya, lalu meneruskan perkataannya, “Mungkin sekarang waktu yang tepat buatku untuk mengatakan semuanya. Sebelumnya aku minta maaf Nay, tapi mulai sekarang kita nggak bisa untuk sedekat seperti dulu lagi.”
“Zha….” air mata Naya hampir jatuh.
“Nay, dari dulu kita cuma temenan, dan sampai kapanpun kita hanya sekedar teman. Nggak bisa lebih dari itu”
“Kenapa?”
“Karna kita teman Nay.”
“Tapi Zha…Aku sayang sama kamu melebihi sayangku sebagai seorang teman. Meskipun sekarang aku harus merendahkan diriku di hadapanmu seperti apa pun, aku tak peduli, tapi kamu jangan bersikap seperti ini padaku.” sebutir air mata Naya tak bisa ditahannya lagi.
“Maaf Nay, aku bukan orang yang pantas untukmu. Tapi aku janji, sampai kapan pun, aku akan tetap jadi temanmu.” Irzha berdiri, ditatapnya sekali lagi Naya, lalu dia tersenyum kecil dan mulai melangkah pergi.
Naya masih duduk termenung di bangku taman. Dia masih belum mengerti dengan semua perubahan yang terjadi pada Irzha. Sebutir bening kembali turun dari bola-bola matanya, tapi segera dihapusnya begitu dia mendengar ponselnya berdering.
“Hallo, ada apa?”
“Kamu dimana? Aku mau ngajak kamu makan siang, sekarang aku sudah sampai di parkiran kampusmu. Kamu dimana?”
“Di taman.”
Naya segera menyimpan kembali ponselnya dan tak lama Indra sudah sampai di hadapannya.
“Hai…”
Naya hanya tersenyum sekilas, lalu Indra berjongkok di depannya.
“Kamu kenapa?” Indra memegang tangan Naya.
“Nggak papa Mas.”
“Kamu nggak boleh sedih. Nggak ada seorang pun yang boleh membuat kamu sampai sedih seperti ini. Ya udah, yuk!” Indra berdiri dan menarik tangan Naya serta menggandengnya pergi. Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang selalu mengintai saat mereka sedang berdua.
*          *          *
Mungkin Naya memang harus melupakan Irzha, meskipun di lubuk hatinya yang paling dalam masih tersisa perasaan cinta untuk Irzha. Perasaan yang belum sepenuhnya dia utarakan, tapi harus dipupus oleh kenyataan bahwa Irzha tidak punya perasaan yang sama terhadapnya.
Masih sulit buat Naya untuk membelokkan perasaannya yang dulu buat Irzha pada seseorang yang lain. Seseorang yang kini selalu menemaninya, menghiburnya, memberikan perhatian dan yang secara terang-terangan mengatakan akan mencurahkan segala cintanya buat Naya. Naya belum bisa untuk menerimanya, tetapi juga tak kuasa untuk menolak kharisma seorang Indra. Seseorang yang jauh lebih dewasa dan lebih mapan dari pada Irzha.
“Kamu tahu nggak Nay, buatku halte ini adalah tempat yang paling romantis.”
Naya menoleh ke arah Indra, keningnya sedikit berkerut.
“Halte? Kok bisa sih Mas? Di sini kan banyak nyamuk.”
Indra menatap Naya.
“Karena ketika di sini, kita bisa ngobrol banyak. Bisa cerita segalanya. Setiap hari, kita bertemu di sini, ngobrol, bercanda-bercanda. Apa itu kurang romantis?”
Naya tersenyum, “Ya, dan di sini Mas Indra selalu bisa membuatku tertawa. Membuatku melupakan masalah-masalahku.”
“Seandainya saja aku selalu bisa seperti itu Nay. Kenyataannya sampai sekarang, aku belum bisa menangin hatimu. Kamu belum bisa menerimaku. Kamu belum bisa melupakan masa lalumu dengan seseorang yang lain, yang aku sendiri tak tahu siapa. Tapi nggak papa kok Nay, sampai kapan pun aku pasti akan nunggu sampai kamu bener-bener bisa nglupain dia, dan bisa menerimaku.”
“Aku sudah melupakannya kok Mas. Aku juga nggak ingin terlalu lama menggantungkan Mas Indra. Besok malem, temui aku lagi di sini. Aku akan memberikan jawaban buat Mas Indra. Apapun nanti yang akan aku putuskan, aku berharap itu yang terbaik buat kita.”
Indra tersenyum, “Oke, apapun nanti keputusanmu aku akan menerimanya. Sekarang, pulang yuk!” Indra memberikan satu tangannya yang langsung disambut oleh Naya.
*          *          *
Malam ini Naya tergesa-gesa keluar dai toko bakery, dia teringat janjinya dengan Indra. Malam ini Naya berjanji akan memberikan jawaban untuk Indra. Naya menyadari, selama ini Indra lah orang yang selalu ada buatnya, yang selalu mengulurkan tangannya, memberikan bahunya untuk Naya bersandar dan menghapus semua air mata Naya. Dan selama itu pula Naya berusaha melupakan Irzha dan mulai belajar menerima dan mencintai Indra. Dan mungkin, inilah saatnya dia mengatakan pada Indra bahwa dia sudah bisa menerimanya.
“Maaf Mas Indra, Naya telat ya.” Naya langsung menyanding Indra yang sudah duduk di bangku halte.
Indra hanya tersenyum sekilas yang tak semanis biasanya. Lalu dia menyodorkan sebotol air mineral pada Naya. Naya menerimanya dan langsung meminumnya beberapa teguk.
“Mas,….”
“Nay, biar aku dulu yang ngomong.” Indra memotong pembicaraan Naya. Naya menatap Indra yang terlihat aneh, tidak seperti biasanya. Indra menunduk.
“Nay, lupakan aku. Aku bukan orang yang pantas buatmu, ada orang yang jauh lebih pantas dari pada aku.”
Naya mengerutkan keningnya, lalu tersenyum kecil, “Mas Indra bercanda?”
“Aku serius Nay. Lupakan aku! Aku bukan orang yang tepat buatmu. Selama ini mungkin aku bisa menghapus air matamu, menghapus sedihmu, tapi sebenarnya aku lah yang menyebabkan kamu menangis, yang membuat kamu sedih.”
“Aku nggak ngerti Mas. Mas Indra ini kenapa? Kemarin Mas Indra ingin aku memberikan kesempatan buat Mas Indra kan, terus kenapa sekarang Mas Indra ingin aku melupakan Mas Indra? Aku bener-bener nggak ngerti Mas.”
“Lupakan aku, lupakan semua yang terjadi antara kita, lupakan janji kita malam ini. Kamu berhak bahagia Nay. Dan aku tahu, kebahagiaanmu hanya jika kamu bersama Irzha.”
“Irzha….?”
“Kamu mencintainya kan? Dan asal kamu tahu, Irzha juga sangat mencintaimu, dia sayang sama kamu. Tolong kamu kasih kesempatan buat Irzha. Kembalilah ke Irzha dan lupakan aku.”
“Itu semua nggak bener Nay, Indra bohong.” tiba-tiba Irzha muncul.
“Irzha….sebenarnya ini ada apa sih?” Naya kebingungan.
“Kamu nggak tahu apa-apa Ndra, aku tidak mencintai Naya, dan aku juga sudah mengatakannya pada Naya tentang itu.” Irzha berkata seraya menatap Indra.
“Dan itu karena aku Zha. Nay, sebenarnya Irzha sayang sama kamu, selama ini dia hanya tidak berani mengakuinya, semata-mata demi aku. Udahlah Zha, kamu jujur saja. Katakan semuanya ke Naya. Aku sudah tahu semuanya.”
“Aku nggak ngerti dengan apa yang kalian omongin. Kalian ini ngomongin apa?”
“Nay, Irzha tu sangat menyayangi kamu. Dia tidak berani mengakuinya hanya karena nggak ingin menyakiti perasaanku. Dia mengalah demi aku. Dia terpaksa menjauhimu karena dia tahu, aku juga sayang sama kamu.”
Naya terdiam, matanya mulai memerah.
“Zha, aku bener-bener nggak ngerti. Ini sebenarnya ada apa? Tolong jujur Zha.”
Irzha hanya terdiam, tatapannya kosong jauh ke depan.
“Irzha….!!!” Naya berteriak seraya mendorong tubuh Irzha. Air matanya mulai menetes lebih deras.
“Itu semua benar Nay. Maaf. Buatku, Indra sangat berarti, aku nggak mau bersaing dengannya demi seorang cewek. Aku nggak ingin melihat dia terluka.” Irzha masih tetap menatap jauh ke depan.
“Dan kau membiarkan aku yang terluka? Kenapa kamu tega nglakuin ini sama aku Zha? Kenapa kamu lebih memilih Indra?”
Irzha menatap Naya, “Karna dia saudaraku, dia kakakku Nay! Dan satu-satunya saudara yang kupunya.”
Naya kaget, lalu secara bergantian menatap Irzha dan Indra. Lalu dia menangis menunduk.
“Nay, kembalilah ke Irzha. Dia lebih pantas buatmu. Dia sangat mencintaimu.”
Naya mendongak, ditatapnya Indra.
“Mas Indra tidak mencintaiku? Mas Indra sudah lupa bagaimana caranya mencintaiku? Mas Indra jahat.”
“Bukan begitu Nay, tapi aku tahu, kamu juga mencintai Irzha kan? Aku nggak mau jadi penghalang di antara kalian. Aku sayang sama Irzha, sangat menyayanginya, dan aku juga sayang sama kamu. Tapi aku rela kamu bahagia dengan Irzha.” Indra menggenggam tangan Naya.
Naya menarik tangannya, “Kalian tega mempermainkanku, kalian sudah keterlaluan. Kalian tega nglakuin ini semua ke aku. Aku benci kalian berdua.…”
“Maaf Nay…” Irzha mencoba bicara.
“Diam Zha, kamu juga. Dulu aku mencintaimu, bahkan dengan merendahkan diri aku memohon agar kamu nggak ninggalin aku, agar kamu memberiku kesempatan. Tapi kamu tetap ninggalin aku. Lalu Mas Indra datang, menyembuhkan semua lukaku. Dan di saat aku sudah bisa melupakan semuanya, bahkan di saat aku sudah bisa membuka hatiku buat Mas Indra, Mas Indra malah mencampakkanku. Apa kalian nggak pernah mikir, bagaimana perasaanku.” Naya menangis semakin keras.
“Nay….”
“Diam…!!!! Jangan pernah menggangguku lagi. Jangan pernah menghubungiku lagi, aku nggak mau lagi mengenal kalian berdua. Aku nggak akan pernah memilih salah satu diantara kalian, dan aku nggak akan pernah bisa.” Naya menghapus air matanya dengan kasar lalu membalikkan badan hendak pergi.
“Nay, aku minta maaf. Jangan seperti ini Nay. Kali ini aku memohon sebagai seorang kakak untuk kebahagiaan adikku dan juga kamu.” Indra mencoba meraih tangan Naya dan langsung dihentakkan oleh Naya. Lalu Naya menoleh lagi.
“Tahu apa Mas Indra tentang kebahagiaanku. Nggak usah ada yang peduli lagi denganku. Asal Mas Indra tahu, malam ini aku ingin mengatakan bahwa aku sudah bisa menerima Mas Indra, aku sayang sama Mas Indra. Tapi, semua kisah antara aku dan Irzha juga antara aku dan Mas Indra, semuanya berakhir malam ini. Semuanya selesai.” sekali lagi Naya menghapus air matanya.
Indra berusaha meraih tangan Naya.
“Jangan paksa aku Mas. Aku nggak akan pernah kembali lagi ke Irzha, dan aku juga nggak bisa bersama Mas Indra. Terima kasih untuk semuanya. Aku pernah merasa jatuh cinta karena Irzha dan aku pernah mendapat cinta yang begitu besar dari Mas Indra. Aku nggak akan lupa itu. Sekarang biarkan aku pergi, aku ingin sendiri” Naya menatap Indra dan Irzha bergantian, lalu membalikkan badannya dan pergi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar