Tiga Ribu Rupiah
“Ayo kampus! Kampus!”
Aku langsung melambaikan tanganku dan melangkah naik. Bis mulai berjalan lagi meskipun kakiku yang satunya belum terangkat. Untunglah tanganku sudah meraih gagang pintu, sehingga aku bisa selamat sampai di atas bis.
Huh…bis kota memang selalu begitu, masih untung kali ini nggak begitu penuh, masih ada tempat duduk kosong di bagian belakang. Aku melangkah menuju kursi kosong di belakang dan segera duduk.
Tak lama seorang kondektur yang memainkan uang logam menyodorkan tangannya ke arahku. Aku pun tersadar lalu segera mengambil dompet dan mengeluarkan selembar uang lima puluh ribuan.
“Satu Bang.” ujarku seraya menyerahkan uangku pada Bang Kondektur.
“Wah, uangnya yang kecil aja Mbak!”
Aku mengurungkannya lalu mulai berekspedisi melakukan pencarian uang di dompetku. Kutemukan selembar ribuan, dan ternyata nggak ada yang lainnya lagi.
“Nggak ada yang kecil Bang, ini cuma ada seribu. Pake ini aja Bang.” aku mengulurkan uang lima puluh ribu yang tadi ku pegang.
“Tiga ribu aja masak nggak ada sih Mbak. Ini tadi baru aja keluar Mbak, jadi belum ada kembaliannya.”
Aku mulai menggeledah tasku kembali, siapa tahu ada sisa-sisa kembalian jajan yang kutaruh di dalam tas, tapi ternyata nihil.
“Nggak ada yang lain Bang, cuma punya ini.” aku menyodorkan selembar seribuan dan lima puluh ribuan.
“Wah gimana ya Mbak, ini belum ada kembaliannya.”
Tiba-tiba seseorang yang duduk di sebelahku menyodorkan uang sepuluh ribuan kepada Bang Kondektur.
“Ini Bang, dua ya. Saya sama Mbak ini.” ujarnya seraya melirikku.
“Nah, gitu aja kan lebih enak.” jawab Bang Kondektur seraya memberi kembalian pada orang itu.
Aku terdiam sesaat, lalu tersadar.
“Mas, nggak usah.”
“Nggak papa kok Mbak. Udah, saya ikhlas kok. Nggak usah diganti.” ujarnya seraya tersenyum.
“Makasih Mas. Mas tinggal dimana? Atau kalau boleh saya minta nomer hp-nya saja, insyaallah nanti siang atau besuk uangnya saya ganti.”
“Nggak usah Mbak, sudah saya ikhlaskan. Nggak usah diganti.”
“Saya jadi nggak enak sama Mas. Insyaallah akan tetap saya ganti Mas, oia nama saya Nadila. Mas?”
“Saya Yusuf.”
“Boleh tahu nomer hp-nya?”
“Mbak, uang tadi kan nggak seberapa. Nggak usah diganti.”
“Mungkin jumlahnya memang nggak seberapa. Tapi tadi saya sudah janji akan menggantinya. Janji kan harus ditepati.” aku tersenyum.
“Baiklah kalau Mbak memaksa. Ini kartu nama saya. Di situ ada alamat dan nomer telpun saya.”
Aku menerima kartu nama itu. Kubaca sekilas, Muhammad Yusuf, General Manager….Subhanallah, ternyata orang yang ada di sebelahku ini adalah seorang Manajer. Aku pun kaget.
“Permisi Mbak, saya turun di sini.”
Aku yang masih kaget hanya mengangguk lalu memberikan jalan. Orang itu turun di depan sebuah gedung yang cukup megah.
* * *
Hampir tengah hari, aku mempercepat langkahku menuju halte. Tak lama sebuah bis lewat. Aku langsung naik ke bis yang akan membawaku ke sebuah restoran, tempat kerjaku empat bulan belakangan ini.
“Selamat siang Mas Ian, maaf baru datang, tadi kuliahnya padat.” sapaku begitu sampai di restoran seraya cepat-cepat masuk ke pantry untuk menaruh tas.
“Dil, itu tolong ada yang mau bayar! Ini bon-nya.” seru mas Ian seraya memberikan catatan bon kepadaku.
Aku mengangguk lalu menuju meja yang ditunjukkan mas Ian.
“Semuanya berapa Mbak?”
“Dua puluh tiga ribu.” jawabku, lalu aku mendongak. Dan betapa terkejutnya aku begitu menyadari orang yang kini berada di depanku.
“Lho, Mas Yusuf ya?”
Mas Yusuf pun ikut mendongak dan terkejut seraya sedikit menyipitkan matanya.
“Saya Nadila Mas, yang tadi pagi Mas bayari ongkos bisnya.”
Mas Yusuf pun tersenyum seraya mangut-mangut. Kemudian dia menyerahkan selembar uang seratus ribuan kepadaku.
“Nggak usah dibayar Mas, anggap saja itu uang pengganti ongkos bis tadi pagi.” aku menolaknya halus seraya mengangkat tanganku.
“Lho, kan saya sudah makan, sudah jadi kewajiban saya untuk membayar.”
“Nggak papa Mas. Anggap itu untuk membayar hutang saya. Dari pada saya bingung-bingung mencari Mas hanya untuk membayar hutang, kan sekarang sudah ketemu dengan Mas Yusuf. Nggak papa kok Mas. Jadi mulai sekarang, kita impas ya. Saya sudah nggak punya hutang lagi dengan Mas Yusuf.”
“Tapi nilainya kan nggak sebanding.”
“Nggak papa Mas. Sering-sering aja Mas Yusuf makan di sini. Permisi Mas, saya harus melayani tamu yang lain.”
“Ya sudah kalau begitu. Terima kasih ya.”
Aku mengangguk seraya tersenyum lalu beranjak kembali ke pantry.
* * *
“Mas Ian, Dila pulang dulu ya. Udah sore, takut ga ada bis.” pamitku pada Mas Ian yang hanya dijawabnya dengan lambaian tangan.
Bergegas aku melangkah menuju halte yang tak jauh dari restoran. Sore gini halte ramai, banyak orang-orang yang juga pulang kerja. Aku ikut menerobos masuk ke sela orang-orang yang mulai berdiri karena baru saja sebuah bis berhenti di situ. Orang-orang mulai berebutan masuk ke dalam bis dan tak lama bis berjalan. Hah…akhirnya keadaan di halte mulai sepi, tinggal beberapa orang saja yang masih menunggu bis berikutnya. Aku pun mencari bangku kosong untuk duduk.
“Nadila!”
Aku menoleh ke arah sumber suara, lalu aku pun tersenyum.
“Mas Yusuf! Wah ketemu lagi. Baru pulang kerja Mas?”
Mas Yusuf hanya tersenyum seraya mengangguk.
“Aneh ya Mas, kita baru tadi pagi kenal tapi sehari ini tadi sudah tiga kali dipertemukan?”
“Ya mungkin Tuhan punya rencana lain dengan pertemuan kita.” Mas Yusuf tersenyum sekali lagi.
Aku pun ikut tersenyum.
“Oia Mas, ada sesuatu yang sejak tadi pagi mengganggu pikiran saya, Mas Yusuf kan seorang manajer, tapi kenapa Mas Yusuf naik bis? Kok Mas Yusuf nggak naik mobil aja?”
“Emangnya kamu percaya kalau saya seorang manajer?”
“Ya tentu saja saya percaya, dari kartu nama Mas tadi tertulis kalau Mas seorang manajer.”
Mas Yusuf tersenyum kecil.
“Kartu nama itu saya buat empat tahun yang lalu, ketika saya masih kuliah.”
Aku mengernyitkan kening,”Maksud Mas Yusuf?”
“Masih percaya kalau saya seorang manajer?”
Aku semakin bingung.
Mas Yusuf tersenyum kecil lalu berkata,”Saya tidak bohong, kartu nama itu memang sudah saya buat sejak empat tahun yang lalu. Di situ saya tulis bahwa saya seorang majager, karena itu adalah impian saya menjadi seorang manajer. Dulu, saya sempat ditertawakan oleh teman-teman saya ketika kartu nama itu saya berikan pada mereka. Mereka mengatakan bahwa saya mengkhayal terlalu tinggi, mereka juga mengatakan bahwa orang kecil seperti saya nggak mungkin bisa jadi manajer. Tapi saya nggak peduli dengan ejekan mereka. Saya menganggap bahwa ejekan mereka adalah cambuk bagi saya untuk membuktikan bahwa itu semua mungkin. Dan kenyataannya emang benar, sekarang saya adalah seorang manajer. Dan sekarang saya nggak perlu membuat kartu nama lagi, karena itu sudah saya buat empat tahun yang lalu, yang dengan kartu nama itulah yang merubah mindset saya untuk berjuang meraih apa yang saya cita-citakan. Semua kesuksesan saya ini berawal dari nol, saya bukan anak konglomerat ataupun pejabat yang sudah terbiasa menggunakan mobil kemana pun mereka pergi. Saya sudah terbiasa naik bis, jadi wajar saja kan kalau saya ingin mempertahankan kebiasaan baik.” Mas Yusuf tersenyum menatapku.
Aku terkesima dengan cerita Mas Yusuf.
“Kamu juga punya cita-cita kan?”
Aku mengangguk pelan.
“Kalau kamu punya cita-cita, jangan menunggu angin membawamu pada cita-cita itu. Tapi carilah alat agar kamu bisa sampai ke situ. Atau, jika kamu ingin terbang, jangan menunggu sampai kamu punya sayap, karena itu nggak akan mungkin. Cobalah!”
Aku tersenyum seraya mengangguk.
“Terima kasih banyak Mas. Beruntung sekali hari ini saya bisa bertemu dengan Mas Yusuf.”
“Semoga berhasil Dila. Saya pulang duluan. Oia, terima kasih untuk makan siangnya tadi ya.” Mas Yusuf berlalu dan masuk ke bis yang baru saja berhenti di depan kami, meninggalkan aku dengan berjuta tanya di pikiranku.
Ah, hanya karena ongkos bis tiga ribu rupiah, hari ini aku dapat pembelajaran dan pencerahan yang luar biasa. Terima kasih Mas Yusuf.
Di coment yaw...!!
BalasHapusBisa komentar ga yaw...
BalasHapus