“Kak, Restya mau ikut Kak Alam tinggal di Solo?” kataku pada Kak Alam waktu itu.
“Kamu kenapa sih Res? Kamu kan bisa tetap tinggal di sini bersama Ayah.”
“Tapi Restya nggak mau Kak tinggal serumah dengan istri mudanya Ayah.”
“Kakak ngerti. Kakak juga nggak suka dengan Tante Farida, tapi kita harus tetep menghormati Ayah Res. Kita boleh nggak mau mengakui Tante Farida sebagai ibu kita, tapi Ayah tetap ayah kita. Kalau kamu juga ikutan pergi, kasihan Ayah. Ayah pasti kesepian.”
“Ayah nggak akan kesepian, selama ini Ayah juga sudah tidak peduli lagi kan dengan kita. Ayah itu terlalu sibuk ngurusi istri barunya. Padahal belum juga setahun Mama meninggal, tapi Ayah sudah menikah lagi. Restya udah nggak mau tinggal di sini Kak. Restya mau ikut Kak Alam aja. Please Kak, boleh ya.” aku memohon.
“Ya udah, kamu boleh ikut Kakak di Solo. Nanti biar Kakak yang bicara pada Ayah. Res, kamu satu-satunya harta yang paling berharga yang Kakak punya, jadi Kakak pasti akan nglakuin apapun asal itu bisa membuat kamu bahagia.” seru Kak Alam memelukku.
Yach dan sejak saat itulah aku ikut tinggal bersama Kak Alam di Solo, meninggalkan Ayah dan segala kekayaannya. Tiap bulan kami masih mendapat kiriman uang dari Ayah, untuk membayar sekolahku, kuliah Kak Alam, juga untuk hidup kami berdua. Meski Ayah hampir tak pernah menanyakan keadaan kami, sekolah kami, tapi kami tetap menghormati Ayah. Akupun menyadari, Ayahlah yang mengajarkan ini padaku juga pada Kak Alam. Selama ini Ayah selalu mencekoki kami dengan kehidupan individualisme yang materialistis.
Tiga bulan sudah aku tinggal di Solo bersama Kak Alam. Dan selama itu pula, Kak Alam lah yang menjadi teman pemompa semangatku. Kakak menjelma menjadi teman curhatku, pelindungku, tempatku berkeluh kesah sekaligus menjadi orang tua bagiku.
Tak dapat ku pungkiri, Kak Alam adalah seseorang yang sangat berarti buatku, yang selalu bisa aku andalkan dimanapun dan kapanpun. Sehingga ketika Kak Alam sakit, aku seakan turut merasakan sakit itu. Seperti pada hari itu, Kak Alam terbaring tak sadarkan diri di salah satu ruangan rumah sakit. Sedetik saja aku tak sanggup untuk beranjak dari samping Kak Alam, aku terus menungguinya dan berharap Kak Alam akan segera membuka matanya.
Dan sore itu aku mendapatkan kejutan yang cukup membuat aku hampir tak bisa lagi bernafas. Kurasakan seluruh persendianku seperti copot, tubuhku lemas dan pandanganku nanar tatkala dokter mengatakan bahwa Kak Alam menderita penyakit yang sangat mematikan, entah apa namanya akupun tak ingat lagi tapi yang ku dengar dengan jelas hanya umur Kakak yang mungkin tak lama lagi.
Hari berikutnya aku masih menunggui Kak Alam di rumah sakit. Aku melihat Kak Alam yang masih terbaring tak berdaya, selang-selang infuse masih melilit di tangannya. Tak kusangka, Kakak yang selalu terlihat begitu kuat di hadapanku ternyata mengidap penyakit mematikan itu, penyakit yang dulu telah mengambil Mama dari sisiku. Dan kenapa sekarang harus Kak Alam? Kenapa bukan yang lain?
Dan tiba-tiba Kak Alam mampu menggerakkan jari-jari tangannya bahkan mulai membuka kelopak matanya. Aku tersenyum dan merasa lega karena Kak Alam masih bisa bangun lagi.
“Restya!” panggil Kak Alam.
“Iya Kak, ini Restya.”
“Kamu kenapa?” tanya Kak Alam menggerakkan tangannya untuk menghapus air mataku yang tiba-tiba menetes.
Aku hanya tersenyum.
“Res, ini jam berapa?”
“Jam sebelas siang Kak.”
“Kamu nggak sekolah?”
“Enggak, Restya mau nemenin Kak Alam di sini.”
“Res, kamu nggak boleh gitu. Kamu harus tetep sekolah. Sebentar lagi kan kamu mau ujian, kamu harus lebih rajin.” Kak Alam mulai marah kepadaku.
“Kak, percuma aja Restya sekolah. Gimana mungkin Restya bisa belajar dengan tenang kalau Restya nggak tahu keadaan Kak Alam.”
“Kakak nggak papa kok Res. Besok kamu harus sekolah ya, pokoknya Kakak nggak mau kamu sampai bolos lagi.”
“Restya mau sekolah, asal Kak Alam mau janji dulu sama Restya.”
“Janji apa?”
“Kak Alam nggak boleh ninggalin Restya. Restya sayang sama Kak Alam.” ujarku seraya memeluk Kak Alam.
“Res, Kak Alam nggak akan pernah ninggalin kamu. Restya juga harus percaya, Kakak juga sayang sama Restya.” ujar Kak Alam membelai rambutku.
Aku bangkit, berdiri.
“Kak, Restya mohon. Kakak nggak usah merahasiakan sesuatu dari Restya. Kakak nggak usah berbohong lagi sama Restya. Restya udah tahu semuanya Kak.” teriakku berurai air mata.
Kak Alam mengulurkan tangannya padaku, menggenggam erat tanganku dan menyuruhku kembali duduk di sampingnya.
“Maafin Kakak Res, Kakak udah nggak jujur selama ini. Kakak hanya nggak pengen kamu sedih.”
“Tapi sekarang Kakak nggak boleh bohong lagi ya ma Restya. Dan Kakak juga nggak boleh pesimis, Kakak bakalan sembuh kok. Restya tahu, Kak Alam nggak mungkin kan tega ninggalin Restya sendirian?”
“Iya, Kakak nggak akan ninggalin Restya. Setidaknya, Kakak akan berjuang agar bisa tetap bertahan sampai Kakak bisa melihat kamu diwisuda dan lulus dengan nilai terbaik. Dan kamu harus jadi yang terbaik Res, buat Kakak. Kamu janji ya?”
Aku mengangguk, “Restya janji Kak.”
Tak lama Kak Alam menjalani perawatan di rumah sakit, setelah itu Kakak harus beristirahat di rumah seraya mengikuti terapi dan obat jalan. Kini Kak Alam lebih banyak melewatkan waktunya bersamaku. Bercanda, bercerita, dan selalu menemaniku belajar. Akupun selalu berharap, aku selalu bisa menemani Kak Alam. Melihat canda tawanya dan senyumannya yang selalu dia lemparkan tiap kali aku menemuinya sepulang sekolah. Hingga aku selalu merindukan untuk pulang sekolah lebih awal, agar aku masih bisa menyaksikan senyum Kak Alam.
Waktu terus bergulir. Enam bulan telah berlalu begitu cepat. Usai sudah ujian akhir sekolahku. Kini aku menunggu wisudaku seraya menemani Kak Alam menjalani hari-harinya yang mungkin juga tak lama lagi. Aku tak ingin menyia-nyiakan waktuku untuk bisa bersama Kak Alam.
Hari wisudaku. Hari yang selama tiga tahun ini aku tunggu-tunggu. Hari dimana aku bisa berdiri di podium dengan mengangkat tropi kejuaraan tinggi-tinggi. Dan itulah kenyataannya. Kini aku berdiri di podium dan menerima penghargaan sebagai lulusan terbaik. Setelah turun dari podium, aku langsung menuju dimana Kak Alam berada, memeluknya dan memberikan tropi kejuaraan itu kepadanya. Air mataku tak bisa dibendung lagi. Aku memeluk Kak Alam erat dan erat sekali. Enggan rasanya aku melepaskan pelukanku, karna aku takut begitu aku melepaskan pelukanku Kak Alam telah tiada.
“Restya.” sapa Kak Alam lembut membelai rambutku.
“Res!” Kak Alam menarik tanganku.
“Kenapa kamu nangis? Kamu nggak boleh nangis.”
“Kak Alam. Kak Alam akan tetep nemenin Restya kan? Kak Alam nggak akan ninggalin Restya kan Kak? Kakak jawab!” Aku mulai nggak tenang.
Entahlah aku merasa ada firasat bahwa Kakak akan segera pergi.
“Iya Res, Kakak akan selalu nemenin kamu sampai Allah memutuskan untuk menghentikan nafas Kakak. Res, bagaimanapun juga kita harus siap menerima keadaan paling buruk sekalipun.”
“ Kita pulang Res!” ajak Kak Alam yang langsung berdiri setelah melihat anggukanku. Belum juga sampai langkah yang kesepuluh, Kak Alam mulai limbung dan pingsan.
Sedetikpun aku tak mau menukar waktuku untuk selalu di samping Kak Alam yang masih tak sadarkan diri. Saat ini, hanya melihat Kak Alam sadarlah hal yang paling aku inginkan. Dan memang benar, Kak Alam mulai membuka matanya perlahan. Sebuah senyum tersungging di bibirku.
Kak Alam menoleh ke arahku. Menggenggam erat tanganku seraya tersenyum kecil yang terlihat sedikit dipaksakan.
“Restya!” seru Kak Alam menarik tanganku.
Aku mendekat, memandang Kak Alam dengan luapan air mata. Tak ada sepatah katapun yang mampu ku ucapkan. Lidahku benar-benar kelu.
“Res, jika nanti Kak Alam bener-bener sudah nggak ada. Kamu nggak boleh nangis lagi Res, kamu nggak boleh sedih. Kamu tahu kan, Kakak paling nggak bisa melihat kamu sedih. Kamu harus rajin belajar, kamu harus bisa mujudin cita-cita kamu jadi dokter. Kamu juga harus kembali ke Ayah Res, kamu nggak boleh membenci Ayah. Kamu mau janji sama Kakak kan Res?” kata Kak Alam lirih.
Aku mengangguk perlahan. Air mataku semakin deras. Ingin rasanya kuhentikan waktu, agar aku selalu bisa melihat Kak Alam, agar jantung Kak Alam terus berdegup.
“Restya, Kak Alam sayang sama Restya.” kata-kata terakhir Kak Alam sebelum menutup matanya perlahan.
Aku hanya bisa menangis. Namun aku masih sempat membimbing Kak Alam mengucapkan syahadat sebelum Kak Alam benar-benar menutup matanya selama-lamanya.
“Restya juga sayang sama Kak Alam.” ujarku memeluk tubuh Kak Alam yang mulai kaku.
Siang itu, usai prosesi pemakaman aku masih setia duduk di samping gundukan tanah merah dengan nisan bertuliskan Alamastya Saputra. Aku mulai menenggelamkan diriku pada kenangan-kenanganku bersama Kak Alam. Kenapa aku harus kehilangan lagi. Setelah Mama meninggalkanku kini Kak Alam yang harus pergi meninggalkanku.
Aku benci Ayah. Benarkah Ayah benar-benar nggak mau peduli lagi dengan keadaan anak-anaknya. Bahkan sampai Kak Alam nggak ada pun, Ayah tak juga datang berkunjung.
“Kak Alam, kenapa Kakak pergi. Kenapa Kakak biarin Restya sendiri. Sekarang Restya harus gimana Kak? Restya nggak tahu harus bagaimana. Kak….Restya sayang sama Kak Alam.” gumamku lirih, memeluk nisan Kak Alam.
Tiba-tiba aku melihat Ayah duduk di sebelahku menghadap makam Kak Alam. Namun aku tidak mempedulikannya. Lalu kudengar dengan jelas isak tangis Ayah. Entah setan apa yang merasukiku kala itu. Aku langsung berdiri dan berkata kepada Ayah.
“Jangan menangis di makam Kak Alam. Ayah nggak berhak menangisinya. Restya nggak akan ngizinin Ayah untuk menangisi kepergian Kak Alam.” teriakku memandang Ayah disertai butiran air mata.
Ayah mengusap air matanya lalu berdiri menatapku, mencoba mengulurkan tangannya untuk memelukku tapi aku menolaknya.
“Maafin Ayah Res. Ayah salah. Ayah telah membuat semuanya jadi seperti ini. Ayah bukan ayah yang baik buat kamu dan Alam.”
“Terlambat Ayah bicara seperti itu. Karena sekarang, apapun yang akan Ayah katakan takkan mengubah keadaan, tak akan bisa mengembalikan lagi Kak Alam.”
“Res, Ayah ngerti….”
“Ngerti apa? Maaf Ayah, Restya nggak bisa menjaga rasa hormat Restya ke Ayah. Ayah nggak pernah ngerti. Ayah nggak pernah ngerti gimana penderitaan Kak Alam selama ini. Ayah nggak pernah tahu kan gimana Kak Alam berjuang melawan penyakitnya? Dimana Ayah sewaktu Kak Alam kesakitan? Dimana Ayah sewaktu Kak Alam melewati detik-detik terakhir hidupnya. Dimana Ayah waktu itu? Ayah nggak pernah tahu kan?” teriakku.
“Res, maafin Ayah!” seru Ayah memelukku.
Aku memeluk Ayah erat-erat. Menangis di pelukannya.
“Restya, Ayah tahu gimana penderitaan kalian. Maafin Ayah Res. Ayah nggak bermaksud pengen membuat kamu dan Alam menderita. Ayah nggak nyangka semuanya akan jadi seperti ini. Maafin Ayah Res.” Ayah membelai rambutku.
“Ayah, Restya sayang sama Ayah.” kulepaskan pelukan Ayah lalu kuhapus air mata Ayah. Aku tak tega melihat Ayah menangis.
“Ayah juga sayang sama Restya.” Ayah tersenyum lalu membimbing aku untuk pulang.
“Res, sekarang kamu kan sudah lulus. Bagaimana kalau kamu tinggal lagi bersama Ayah di Jakarta? Kamu kan bisa melanjutkan kuliah di sana.”
“Enggak Yah, Restya mau tetap di sini. Restya mau kuliah di sini saja.”
“Tapi Res, di sini kamu tinggal sama siapa? Alam kan sudah nggak ada. Siapa yang akan menemani kamu. Ayah nggak mau terjadi apa-apa sama kamu. Ayah nggak mau mengulangi kesalahan Ayah.”
“Ayah nggak usah khawatir. Restya akan baik-baik saja kok. Restya tahu, Kak Alam nggak akan ngebiarin Restya sendiri. Kak Alam boleh pergi, tapi buat Restya Kak Alam tetap hidup di hati Restya. Restya nggak mau Yah, kehilangan semua kenangan dengan Kak Alam.”
Kini setahun sudah peristiwa itu berlalu. Dan kini aku telah menjadi seorang mahasiswi kedokteran di sebuah perguruan tinggi di Solo. Dan sampai sekarangpun, aku belum mampu melepaskan bayang-bayang Kak Alam. Selama setahun ini, bayang-bayang Kak Alam tak pernah semenitpun beranjak dari hati dan pikiranku. Di setiap waktuku, aku selalu merasakan kehadiran Kak Alam. Aku merasa Kak Alam selalu di sampingku, selalu menemaniku, dan aku seperti melihat Kak Alam ikut bercengkrama denganku. D an selama itu pula aku harus berjuang untuk tetap berkonsentrasi pada kuliahku.
Entah mengapa, di setiap waktu aku merasakan kerinduan yang sangat hebat akan hadirnya Kak Alam. Aku merindukan Kak Alam dengan segala perhatian dan kasih sayangnya buatku. Aku tak pernah melewatkan sekali dalam sepekan untuk berziarah ke makam Kak Alam untuk sekedar mengobati rasa rinduku pada Kak Alam, menaburkan bunga di atas makamnya, dan menceritakan keluh kesahku pada gundukan tanah yang kuyakini telah menghancurkan jasad Kak Alam. Selamat jalan Kakak, semoga Kakak mendapat kedamaian di sana.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar