Dira mulai melangkah, menguatkan hati menemui Aji. Air matanya mulai menetes lagi ketika membuka pintu kamar Aji. Aji histeris, Om Lukman di sampingnya. Perlahan Dira mendekat lalu merengkuh Aji, mencoba menenangkannya. Butuh waktu lama untuk menenangkan Aji kembali. Aji mencoba melepaskan pelukan Dira.
“Aku pengen sendiri.”
“Aku nggak akan biarin kamu sendiri Ji. Nggak akan pernah.” Dira tetap merengkuh Aji.
“Aku ingin sendiri!!!!” teriak Aji dengan keras.
Dira kaget lalu melepaskan Aji. Baru kali ini dia melihat Aji menangis. Keadaannya benar-benar kacau. Dira masih menangis sesenggukan, Om Lukman menuntunnya keluar ruangan.
“Biarkan dia sendiri dulu Ra. Dia pasti akan baik-baik saja. Om janji akan melakukan yang terbaik buat Aji.”
* * *
Hati-hati sekali Dira membuka pintu kamar Aji, lalu mulai melangkah masuk dengan tersenyum.
“Hai, gimana keadaanmu?”
Aji diam dan pandangannya menerawang entah kemana.
“Ji…” Dira menyentuh tangan Aji.
Aji menoleh tanpa ekspresi.
“Oia…Ji, kamu tahu kan bunga mawar kuningnya ibu. Bunga itu kan belum pernah mekar, tapi kemarin tu udah mulai kuncup. Papa nggak tahu, trus pas Papa motongi rumput, kuncup mawarnya kepotong deh. Ibu marah-marah gitu, akhirnya sebagai tebusannya Papa harus nemenin Ibu ke salon. Bayangin aja Ji, masa Papa harus nungguin Ibu seharian di salon. Ha…ha…ha…” Dira tertawa mencoba menghibur Aji.
Aji masih tak bergeming.
“Ji, kamu tega banget sih ma aku. Kenapa sih kamu diemin aku kayak gini.” Dira tak kuat menahan air matanya.
Aji menatap Dira.
“Ra, kamu sudah tahu kan keadaanku saat ini. Tinggalin saja aku Ra! Maaf, aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan ini. Aku nggak ingin kamu ikut menderita denganku.” Dira terkejut.
“Aku nggak mau. Nggak akan pernah mau.”
“Ra, tolong ngertiin aku! Kamu juga tahu, umurku tak panjang lagi. Tinggal menunggu waktu Ra, sampai aku bener-bener ga bisa bertahan lagi.”
“Ga ada yang tahu batasan umur seseorang Ji, bahkan ilmu apa pun ga bisa menandingi kebesaran Sang Maha Kuasa. Jangan mendahului takdir. Masih ada kemungkinan Ji. Dan aku mohon, jangan suruh aku pergi. Jangan kau suruh aku buat ninggalin kamu. Sampai kapan pun aku nggak akan pernah mau. Apa pun yang terjadi, aku akan tetap di sampingmu. Sekali pun kamu harus pergi, aku ingin menjadi orang terakhir yang kamu lihat, yang kamu pegang, orang terakhir yang bisa mendengar detak jantungmu, dan merasakan hembusan nafasmu yang terakhir.” Dira menangis.
Aji menatapnya lalu memeluknya.
“Ra, aku janji di sisa waktuku ini, aku akan membuat kamu tertawa, aku nggak akan ngizinin kamu nangis, aku akan nglakuin apa aja untuk membuat kamu bahagia. Kamu janji ya, nggak akan nangis lagi walo apa pun yang terjadi.” Aji menghapus air mata Dira.
* * *
Beberapa bulan berlalu dengan kebersamaan. Tak terasa waktu bergulir begitu cepat. Ketika jarum jam mulai bergerak, ada hati yang mulai tak tenang. Ada ketakutan yang terus memburu. Takut jika mata itu terpejam maka esok sudah tak bisa dibuka lagi. Seandainya saja waktu bisa dihentikan, mungkin senyum Aji dan Dira akan terus terkembang. Tapi ternyata semua tahluk pada waktu, ga ada yang bisa melawan, bahkan untuk menghentikannya barang sedetik.
Air mata Dira tak pernah kering menunggui Aji yang sudah sangat lemah. Meski sudah jauh-jauh hari Dira menyiapkan hatinya untuk menghadapi hari ini, tapi tetap saja Dira tak mampu membendung perasaannya. Perasaan takut, gelisah, khawatir jika mata Aji benar-benar tak bisa dibuka lagi. Bahkan sampai hari kedua Aji di rawat di rumah sakit pun, belum ada tanda-tanda Aji akan sadar.
Dira meletakkan kepalanya di tangan Aji. Tangan itu mulai bergerak. Dira bangkit. Seulas senyum masih tertahan di bibirnya. Dan tak lama mata Aji pun mulai terbuka.
“Aji….” Dira tersenyum, tapi air matanya juga tak bisa di tahan.
Aji seperti ingin membisikkan sesuatu, tapi tak bisa. Mulutnya hanya menganga tanpa keluar suara sedikit pun. Tangannya lalu bergerak, menunjuk sebuah lipatan kertas di balik selimutnya. Dira mengambil kertas itu seraya menangis. Dilihatnya Aji yang mulai mengatur nafasnya seraya berkomat-kamit melafalkan syahadat. Dan alat-alat medis yang melilit di tubuh Aji mulai tak berfungsi, menandakan tubuh juga sudah tak berfungsi.
Dira menjerit. Dipeluknya tubuh Aji, digoyang-goyangkan seraya memanggil nama Aji, tapi tak merubah apapun. Tubuh Aji semakin dingin dan kaku.
Dua hari kemudian….
Dira masih terus menerus mengunci diri di kamarnya. Diamatinya foto-foto Aji, air mata itu tak juga mau berhenti menetes. Kemudian Dira ingat sesuatu, dia mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah lipatan kertas. Dibukanya perlahan.
Dear Dira…
Terima kasih untuk semua cinta dan kasih sayangmu selama ini. Bersamamu dan mencintaimu adalah hal yang paling indah dalam hidupku. Dan membiarkanmu masuk dalam kehidupanku, membuatku merasa sangat bersalah karena yang bisa kuberikan padamu hanyalah kepedihan. Ketika aku sudah nggak ada, jangan kau bawa kepedihan itu berlarut-larut. Setiap tetes air matamu itu adalah kehidupan Dira, jangan kau biarkan itu terus menetes. Dan setiap senyummu adalah kebahagiaan, jadi tetaplah tersenyum…..
-AJI-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar