“Aji, gimana, papamu bisa datang kan ke acara wisudamu?”
“Nggak tahu Ra, Papa terlalu sibuk untuk menghadiri wisudaku. Sampai sekarang aja aku belum bertemu Papa. Beliau masih di luar kota. Mudah-mudahan aja minggu depan Papa udah pulang. Tapi aku nggak berharap banyak kok. Bagi Papa, pekerjaannya adalah segalanya.” Aji berkata sedih.
“Ya udah lah Ji, semua yang Papa kamu lakukan semata-mata demi kamu juga kan. Kalo Kak Adi?”
“Sama aja, peduli apa Kakak sama aku. Nggak papa kok Ra, yang penting kamu mau datang kan ke wisudaku?”
“Pasti. Aku pasti datang.” Dira tersenyum.
“Walau Papa dan Kak Adi udah nggak peduli sama aku, tapi aku masih cukup beruntung Ra. Karna aku punya kamu, satu-satunya orang yang masih peduli sama aku. Tetaplah kamu di samping aku Ra, sampai kapan pun!” Aji menatap Dira, kekasih yang sangat dicintainya.
Dira tersenyum.
“Pasti Aji, aku janji nggak akan ninggalin kamu, sampai kapan pun.”
Seminggu kemudian….
Dengan langkah perlahan, Aji meninggalkan ruangan tempat acara pelepasan wisudanya.
“Ji….” sapa Dira.
Aji menoleh, sesungging senyum terkulum di bibirnya.
“Selamat ya…. Akhirnya, kamu lulus juga. Kamu tadi keren banget lho, sumpah deh… Apalagi pas kamu maju menerima penghargaan sebagai lulusan terbaik. Wah rasanya bangga banget aku punya cowok yang pinter kayak kamu.” Dira memuji-muji Aji.
“Baru sekarang nih, bangganya?” ujar Aji seraya mengajak Dira untuk duduk.
“Aku bangga sejak kamu meminta aku buat jadi pacar kamu. Ji, kenapa sih kok ngliatin hp terus?”
“Nggak papa Ra, takut aja ntar kalo ada sms atau telepon tapi aku nggak denger.”
“Kamu nunggu telpon dari Papa kamu ya?”
“Enggak kok, tapi mungkin aja ada yang inget kalau hari ini adalah hari yang bersejarah buatku. Bisa lulus SMA dengan predikat terbaik.” Aji berdusta.
Tiba-tiba ada sebuah sms masuk. Aji berbinar dan membaca sms tersebut, lalu menunduk.
“Ji, kenapa? Papa kamu sms?”
Aji mendongak menatap Dira.
“Bukan Papa, tapi ibu kamu. Aku seneng Ra, ternyata ibumu peduli ya sama aku.” Aji tersenyum.
“Aku tahu Ji, kamu sedih karena Papamu nggak juga nelpon. Iya kan? Tapi kamu jangan kuatir, ada aku, ada keluargaku. Kita semua bakal selalu ada buat kamu. Oia…ntar malem kamu makan malam di rumahku aja, Ibu bilang mau bikin nasi liwet. Sekalian ntar buat ngrayain kelulusanmu.”
Aji tersenyum.
“Pulang yu’!” Aji beranjak seraya menggandeng Dira.
Belum sampai langkah kesepuluh, tiba-tiba Aji berhenti dan terduduk seraya memegangi kepalanya.
“Ji, kamu kenapa? Aji…Ji, kamu kenapa Ji?” Dira panik.
“Kepalaku…” Aji menyandarkan kepalanya pada Dira, lalu tak sadarkan diri.
* * *
Dira menyusuri lorong-lorong rumah sakit seraya menenteng sekotak kue buat Aji. Belum sampai dia membuka pintu kamar rumah sakit tempat Aji dirawat, seorang dokter menemuinya.
“Dira…”
“Eh, Om Lukman.”
“Ada yang ingin Om bicarakan. Ini mengenai Aji. Ikut ke ruangan Om yu’!”
Dira berjalan pelan mengikuti Om Lukman, dokter yang menangani Aji.
“Ra, kamu bisa bantu Om kan? Ada yang pengen Om sampaikan mengenai Aji. Tapi Om ingin bicara langsung dengan keluarganya. Kamu bisa bantu Om untuk menghubungi keluarganya kan?”
“Maksud Om papanya? Nggak mungkin Om, papanya masih di luar kota dan nggak tahu kapan pulangnya.”
“Keluarganya yang lain?”
“Nggak ada. Ibunya sudah lama meninggal, dan kakaknya nggak pernah mau peduli dengannya. Kalo Om nggak keberatan, Om bisa menyampaikannya ke Dira Om.”
“Ini masalah yang penting Ra. Om pengen bicara langsung dengan keluarganya.”
“Tapi itu nggak mungkin Om. Om, apa ada sesuatu yang buruk yang terjadi pada Aji?”
Om Lukman diam tak menjawab.
“Jawab Om! Nggak terjadi apa-apa kan Om? Om, Om jujur aja ma Dira. Saat ini Aji tanggung jawab Dira Om. Please, Dira mohon Om. Ada apa dengan Aji Om? Dira janji, Dira akan kuat apa pun yang terjadi.”
Om Lukman menatap Dira lalu mulai berkata.
“Aji mengidap kanker Ra.”
Dira ternganga seolah tak percaya. Perlahan butir-butir air matanya mulai turun.
“Nggak mungkin Om. Nggak mungkin.” Dira semakin terisak.
“Itu bener Dira. Makanya Om pengen bicara langsung ke keluarganya agar ada penanganan lebih lanjut.”
“Masih ada harapan untuk sembuh kan Om? Lakukan sesuatu Om!”
“Penyakitnya sudah menyebar Ra, tapi dia mungkin masih bisa bertahan untuk beberapa bulan kedepan.”
Dira menangis lebih keras.
“Jadi umurnya tinggal beberapa bulan lagi?”
“Nggak ada yang tahu batasan umur seseorang. Tapi secara medis, ya seperti itu.”
“Om, Dira mohon jangan sampai Aji tahu tentang hal ini. Jika memang kesempatannya tinggal sebentar, biarkan dia menikmatinya tanpa harus tahu tentang ini.”
“Nggak bisa Ra. Bagaimana pun juga Aji harus tahu. Dengan begitu, dia juga bisa menjaga kesehatannya sendiri. Biar nanti Om yang mengatakannya sendiri.”
Dira masih berlinang air mata lalu bangkit dan keluar dari ruangan Om Lukman. Tak sanggup Dira menemui Aji. Dira terduduk di serambi rumah sakit, mencoba menata hatinya.
.....to be continued....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar