Senin, 15 November 2010

Pengakuan

“Ica…”
Aku menoleh. Ah Dega…senyum itu masih sama, senyum dari sahabat terbaikku yang bisa membuat aku tak berkedip barang sebentar.
“Hei, malah bengong.” Dega menyenggolku.
Aku tersenyum, kubiarkan dia duduk di dekatku. Aku masih belum bisa melepaskan pandanganku darinya. Yach Dega, satu-satunya sahabat terbaikku saat ini. Dia adalah teman sekelasku dari SD, dan sampai di bangku kuliah pun kita masih satu kelas.
Mungkin itulah alasan kenapa sampai saat ini aku masih sangat bergantung padanya, pada sosok yang selalu menjadi dewa penolongku dari gangguan anak-anak nakal sewaktu kecil bahkan sampai sekarang pun dia masih menjelma sebagai pahlawan buatku. Karena begitu dalamnya rasa kekagumanku padanya, hingga aku sendiri tak menyadari apakah ini hanya sekedar kekaguman atau lebih. Tapi yang pasti aku tak ingin kehilangan dia, aku ingin terus berada di sisinya.
“Ca tahu nggak, besok aku mau ketemuan sama temen chatingku. Akhirnya dia mau aku ajak ketemuan. Kamu mau ikut gak?”
“Cowok atau cewek?”
“Ya cewek lah, masak aku chating ma cowok. Orangnya cantik lho, gak kayak kamu…” gurau Dega sembari menggerakkan tangannya ke kepalaku.
Entahlah, aku nggak suka Dega berkata seperti itu. Aku nggak suka Dega bertemu dengan cewek teman chatingnya itu.
“Gimana mau ikut ga?”
“Enggak ah, buat apa? Jadi cameo?” aku bersungut.
“Tahu diri juga kamu Ca, he..he..aku kan nawarinnya juga cuma bercanda. Mana mungkin aku mau ngedate terus ngajak-ngajak kamu.” Dega tertawa keras.
Aku terdiam, murung.
“Bercanda Ca, masa gitu aja marah. Gini deh, kapan-kapan kita ngedate bareng. Aku yang traktir deh. Mau ga?”
“Enggak.” aku berlalu.
* * *

Ah Dega, tak tahukah kamu bahwa aku sangat marah ketika kamu terus menerus bercerita tentang temen-temen cewekmu itu. Tentang Silvi, temen chatingmu. Yulia, gebetan barumu dan banyak lagi cewek-cewek lainnya. Aku benci kamu selalu memuja-muja mereka. Dan kenapa kamu terus dan terus saja bercerita tentang mereka, apa kamu ga tahu kalau aku cemburu. Kenapa kamu ga pernah ngerti perasaanku.
Yach aku tahu, kamu hanya menganggapku sekedar teman biasa, tak lebih. Tapi aku tak bisa begitu saja menerima bahwa aku hanya sekedar teman buatmu. Aku ingin bisa jadi seseorang yang selalu menemanimu, yang selalu ada buatmu, menjadi satu-satunya orang yang kau butuhkan. Tapi, kau tak pernah tahu itu.
“Ca, ternyata yang namanya Silvi itu bener-bener cantik. Dia juga baik banget, pokoknya perfect deh.”
“Udah selesai ceritanya?” aku mentapnya lalu berajak dari sisinya.
“Ca…!” Dega mencekal tanganku dan menarikku untuk duduk kembali.
“Apa nggak ada hal lain yang bisa kamu ceritakan ke aku selain tentang temen cewek kamu itu? Kamu tu nyebelin banget ya Deg.”
“Ca, kamu tu kenapa sih? Emang salah ya kalo aku cerita itu ke kamu?” Dega heran.
Aku terdiam. Kamu nggak salah Dega, tapi aku ga suka kamu cerita tentang itu.
“Ca, ke siapa lagi aku harus berbagi selain ke kamu? Kamu satu-satunya sahabat aku Ca.”
“Maafin aku Dega.” aku berdiri dan pergi dari hadapan Dega.
* * *

Dan sejak saat itu, aku tak pernah lagi berangkat dan pulang kuliah bareng dengan Dega. Dia sudah tidak pernah lagi menjemputku, tak juga menelpon atau sms sebelum tidur. Aku sedih, Dega sudah tak pernah lagi menyapaku, bahkan tak lagi memperdulikan aku. Dan Dega juga sudah jarang ke kampus. Dia bukan lagi pahlawan yang selalu membela dan menjagaku.
Meski apa pun yang terjadi, tapi entah lah rasa ini masih tetap sama kepadanya, rasa sayangku tak berkurang sedikit pun. Bahkan semakin hari, rasa ini semakin dalam kepadanya, meskipun tak seorang pun tahu.
Malam ini aku melihat langit dari jendela kamarku yang sengaja kubuka. Aku berharap ada bintang jatuh di antara ribuan bintang di langit, karena aku punya satu permintaan. Aku berharap, malam ini Dega datang dan menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun kepadaku. Sesuatu yang menjadi kebiasaannya selama ini, sebelum dia menjauh dariku dan menghilang entah kemana.
Meskipun hanya bisa menjadi sahabatnya, tapi aku masih berharap Dega datang dan menemaniku menghitung bintang. Tapi sampai hampir tengah malam dia tak juga tampak. Dadaku terasa sesak dan tak terasa tangisku semakin keras.
Tiba-tiba sebuah sms masuk :
happy birthday Ica, maaf aku gk bisa menemanimu menghitung bintang,aku punya hadiah buatmu.kamu ke rumah ya
Aku tersenyum menghapus air mataku. Dega masih ingat dengan ulang tahunku, tapi kenapa dia tak datang. Ini adalah kali pertamanya Dega tidak datang di malam ulang tahunku sejak kami berikrar sebagai sahabat.
* * *

Siang itu aku ke rumah Dega, memang sejak pertengkaranku dengannya waktu itu aku tidak pernah ke rumahnya lagi dan sejak itu pula aku tak pernah bertegur sapa dengannya. Sesampainya di rumah Dega, aku tak mendapati sosok yang sejujurnya sangat aku rindukan itu. Kuambil bungkusan kecil berwarna biru muda yang diserahkan seorang penjaga rumahnya. Hemm….ini pasti kado yang dimaksudkan Dega. Aku hafal betul, Dega selalu memberiku kado berwarna biru muda. Tapi kenapa tidak diberikannya sendiri, kemana Dega? Kata penjaga rumahnya sudah hampir sebulan ini Dega pergi bersama keluarganya, tapi penjaga rumahnya itu tidak mau memberitahuku kemana Dega pergi, dan kenapa Dega pergi.
Setelah sampai di rumah, kubuka perlahan bungkusan itu. Sebuah diari. Tumben Dega memberiku hadiah diari, biasanya dia lebih suka memberiku boneka, sepatu, tas, kaset. Kubuka halaman pertama buku diari itu. Aku pun tersenyum saat kulihat fotoku bersama Dega terpampang di halaman pertama yang kubuka. Aku masih ingat dengan betul, itu adalah fotoku bersama Dega saat masih SMA. Tiba-tiba rasa haru menyeruak di kalbuku. Ku lanjutkan membuka halaman berikutnya, sebuah surat. Ah…aku menjadi lebih tertarik untuk segera membaca surat itu.

Dear Ica…
Happy birthday ya Ca, Selamat ulang tahun. Aku minta maaf Ca, nggak bisa menemanimu menghitung bintang. Ada berapa Ca? Sama nggak seperti tahun kemaren? Padahal aku ingin sekali melihat kamu marah karena ku ganggu saat menghitung bintang.
Ica, aku minta maaf karena telah membuat kamu marah. Apa sampai sekarang kamu masih marah Ca? Heh…aku senang kalau kamu marah, memang itu lah tujuanku. Kamu marah karena aku selalu cerita tentang Silvi, Yulia, Rasti dan temen-temen cewek aku itu kan? Kau tahu Ca, aku nggak pernah punya temen chating bernama Silvi, gebetan bernama Yulia, aku juga belum pernah jadian dengan Rasti. Semua cewek-cewek yang selalu kuceritakan ke kamu itu hanyalah sekedar nama, mereka semua fiktif, mereka semua nggak pernah ada.
Aku seneng banget jika bisa ngobrol sama kamu Ca, tapi kadang aku kehabisan bahan cerita yang bisa aku ceritakan ke kamu. Jadi aku mengarang cerita tentang Silvi, Yulia, juga tentang semua cewek-cewek itu. Dan itu semua aku lakukan semata-mata agar aku selalu bisa ngobrol sama kamu, agar aku nggak kehabisan cerita. Dan aku juga pengen membuat kamu cemburu, marah ke aku. Tapi ternyata kamu nggak pernah marah ke aku, bahkan kamu menanggapi cerita-ceritaku. Aku sedih Ca saat kamu bersikap biasa saja mendengar semua ceritaku.
Saat ini aku harus pergi jauh Ca, dan entah kapan aku bisa kembali. Aku sangat berharap, selama aku nggak bisa menemani hari-harimu, nggak bisa mendengarkan ceritamu, kamu bisa menuliskan kisahmu di diari ini. Kelak, jika suatu hari aku kembali, aku juga bisa merasakan melewati hari-harimu yang lalu, yang kau lewatkan tanpaku.
Ica…aku janji, aku akan kembali untuk kamu. Aku akan datang di sebuah malam yang penuh bintang, dan aku akan menemanimu untuk menghitung bintang.
Ica…aku sayang sama kamu, dahulu, sekarang dan selamanya…


Dega,

Dadaku benar-benar semakin sesak. Aku tak bisa menahan tangis yang kini semakin keras. Dega, kau juga tak pernah tahu bahwa selama ini aku sangat marah saat kau cerita tentang cewek-cewek itu. Aku cemburu Dega. Kenapa kamu nggak pernah ngerti hal ini? Dan kenapa kamu nggak pernah jujur? Dan sekarang kamu ungkapkan semuanya saat kamu tak ada di sisiku, kamu nggak akan tahu kalau aku juga sangat menyayangimu.
Dega, aku juga sayang sama kamu. Dari dulu, sekarang dan selamanya, aku sayang sama kamu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar