“Kamu tadi bilang kalau kamu menyukaiku, kamu juga mencintaiku. Tapi kenapa kamu nggak bisa nerima aku? Kenapa kamu lebih memilih dia?”
Si cowok menatapnya.
“Maaf. Aku memang menyukaimu, tapi aku juga menyukainya. Dan aku memang lebih memilihnya, karena aku tahu dia pasti akan hancur jika aku menolaknya. Dia pasti akan terluka dan sedih.”
“Jika dia bisa terluka dan sedih, apa kamu pikir aku tidak akan bisa terluka dan sedih?”
“Karena aku lebih tahu siapa kamu. Aku tahu kamu cewek yang kuat, independent, tough. Kamu tidak akan hancur hanya karena aku menolakmu. Tapi dia, dia terlalu sensitif, hingga sedikit saja aku menyakitinya, dia pasti akan hancur. Aku memilihnya karena aku memahami itu, dia lebih membutuhkanku dari pada kamu.”
“Oh…makasih, karna kamu ternyata menganggapku cewek yang tough.”
Ini adalah sepenggal kisah dari salah satu buku yang pernah ku baca. (lupa judulnya….)(gawat mulai amnesia lagi). Menyedihkan…karna dia ditolak seorang cowok yang sebenarnya juga menyukainya, hanya karena si cowok berfikir bahwa dia cewek yang kuat, dan tidak akan terpuruk hanya karena hal itu.
Seperti itu pula diriku, selalu berusaha untuk terlihat kuat, meskipun sebenarnya aku menangis. Bagi orang-orang, mungkin biasa kita menangis ketika sedih. Aku pun juga sering seperti itu. Tapi buatku, cukup aku sendiri yang tahu aku menangis. Aku nggak mau merontokkan image-ku, cewek yang tangguh. Yach…aku memang egois.
Teman-teman juga mengenalku seperti itu. Cewek yang mandiri, yang kuat. Padahal aku sering menghabiskan malam-malamku dengan terpuruk di atas bantal, dengan berlama-lama bermunahajat di atas sajadah.
Teringat seorang sahabat yang mengatakan padaku saat aku lagi banyak masalah,
“Kok kamu bisa sih Nan? Kalau aku jadi kamu, aku pasti udah nangis.”
Dan jawabku kala itu,
“Kalau pun harus nangis, masak aku harus nangis di depanmu.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar